Jumat, 19 November 2010
Kisah Dua Tukang Sol
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.
www.motivasi-islami.com
Sabtu, 31 Juli 2010
AKU INGIN MENJADI SEORANG MENTOR (based on true story)
Bismillah….
Dengan nama Allah, saya memberanikan diri untuk menjadi mentor,bukan berarti saya jauh lebih baik dari yang lain, tetapi jiwa dakwah saya sudah berkali-kali dipanggil dan tidak mungin saya mengabaikannya. Sebut saja saya sebagai al-akh….
Al-akh yang insyaAllah sudah bergabung di jalan dakwah ini beberapa waktu silam. Tegang, itulah yang saya rasakan ketika pertama kali mengikuti mentoring saat PK2MABA. Tetapi, lambat laun saya malah menikmati mentoring itu. Setahun berlalu sejak saya mengikuti mentoring ini, yang Insya Allah dengan rutin karena Allah sang Penggenggam setiap jiwa memudahkan hati dan langkah ini hingga sampai ke mentoring. Tibalah saat Open Recruitment (OR) mentor tiba, dengan segala kesungguhan hati, memperbaiki, dan meluruskan niat, akhirnya saya memutuskan menjadi seorang mentor.
Mungkin banyak keraguan dihati para saudara-saudariku, mengapa begitu semangatnya saya ingin sekali menjadi mentor. Saya hanyalah manusia biasa, yang perlu perbaikan dan pembinaan, apalah jadinya saya jika jauh dari bimbingan agama, naudzubillah. Begitu banyak peristiwa-peristiwa yang semakin kuat menarikku untuk bergabung dijalan dakwah ini.
Bagaimana tidak?
Ketika ada seseorang yang mendatangi saya dan mengaku telah (maaf)melakukan zina dan ingin saya membimbingnya. Apalah saya ini, seseorang yang masih perlu dimimbing, tetapi harus membimbing orang lain. Tetapi Allah telah menakdirkan saya bertemu mereka lebih dari satu kali. Wajah yang kelam,itulah yang saya lihat dari mereka. Mungkin orang-orang seperti itu juga ada di kampus kita, dan mereka memerlukan uluran dakwah kita, boleh jadi mereka malu mengutarakannya. Mungkinkah kita hanya diam saja, ketika saudara-saudari kita begitu rindu akan cahaya Allah yang kini mereka dapati hanyalah kegelapan? Tidak inginkan kita menjadi perantara Allah dalam berbagi kebaikan dan cahaya yang menunjukkan jalan keluar?
Wahai saudaraku, apa yang sekarang kamu takutkan,
” jadi mentor ga harus jadi kiai dulu”,
“ga harus jadi ulama' dulu yang penting ia punya tekad untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang lain”…..
Itulah sepenggal kisah nyata dari salah seorang aktivis dakwah yang InsyaAllah sampai sekarangpun masih istiqomah dengan “binaannya”. jiwa dakwahnya karena melihat disekelilingnya yang memerlukan uluran dakwah dan berpikir banyaknya orang pintar di Indonesia namun sedikit sekali yang bermoral boleh jadi salah satu alasanya utuk tidak “apatis” terhadap sekitar. Masih kurangkah kisah beliau untuk membangunkan jiwa dakwahmu ya pemuda-pemudi generasi penerus panji-panji perjuangan Rasul?
Jika alasan utama kita dalah sibuknya waktu kuliah hingga tidak bisa menyediakan waktu untuk berdakwah, lantas bagaimana dengan Presiden BEM FK 2007, Yang juga punya jam terbang amat padat?
Adalah Aldilla wahyu Rahmadian atau yang akrab dipanggil Allidlla ini, ketika itu mengenal mentoring saat PK2MABA, dengan senang hati mengikuti mentoring setelah penat dari segala aktivitas adalah perasaanya ketika mentorning pertama kali menyapa dihatinya. Nuansa mentoring memberikan angin sejuk ketika itu. Teringat ia akan pesan kakak tercintanya yang mengatakan bahwa “ jika waktu tidak diisi dengan hal yang bermanfaat maka akan terisi oleh kesia-siaan”. Kalimat itulah yang menjadi salah satu penyemangatnya tuk terus istiqomah dalam mengikuti mentoring selama menjadi MABA. Sampai akhirnya OR tiba. Ia pun memberanikan diri untuk mendaftar menjadi mentor, dengan meniatkan untuk mencari ilmu.
Kelas 3 SMA, itulah masa ketika ia menyabut Hidayah yang menyapanya. Peristiwa ketika ia aktif di organisasi yang terkadang membuatnya “confront” dengan anggota SKI- lah yang membuatnya tersadar. “Apa yang telah saya lakukan selama 20 tahun ini, begitu saya lalai dan tidak mengenal Islam dengan baik”, ungkapnya lirik. Terlecutlah ia untuk memperbaiki dirinya agar dapat membawa bekal yang cukup di akhirat kelak, karena tidak ada seorangpun yang menjaminnya dapat hidup esok hari.
“Wahai saudara-saudariku, saya sudah terlambat mengetahui betapa indahnya Islam itu,dan saya tidak ingin adik-adik saya merasakan apa yang saya rasakan,”tambahnya.
Adalah Aldilla, seorang Presiden BEM yang InsyaAllah memiliki jam terbang yang padat tetapi terus menyediakan waktunya untuk berbagi ilmu kepada “adik-adiknya” dan mengikuti kajian LKI. Ia pun selalu menyempatkan waktunya untuk memotivasi para mentor yang lain untuk terus istiqomah di jalan dakwah yang berat ini.
“jalan dakwah memang berat dan pahit, tetapi balasan pahala yang dijanjikan Allah amatlah manis,” itulah sepenggal kalimat yang menyemangatinya ketika ia berkeluh tidak sanggup berada di jalan dakwah ini kepada kakak yang telah mengajaknya menjadi penerus perjuangan Rasul
Wahai, pemuda-pemudi yang memimpikan Rasul sebagai Mentornya, dakwah telah memanggilmu, tak inginkah engkau menyahut panggilanya? Lihatlah sekelilingmu, mereka perlu uluran dakwah,yang menyejukkan seperti embun pagi, menerangi ketika gelap dan menghangatkan laksana mentari pagi. Bisa jadi amal yang engkau anggap sepele, justru Allah ridha atas amalmu…….
Wallahu ‘alam bishshawab

